Nampan Emosi

Seribu debu menumpuk di atas nampan kelegaan
Bukan karena tak terbersih
hanya
tak pernah tersentuh

Nampan ini adalah penampung semua lara
itu dulu...

Lalu, apakah aku tak pernah memakainya lagi?
Ah ya, aku memakai hal lain, wadah lain untuk menampungnya
Kejam? Ah, Tidak!
Hanya saja, menjadi aktris itu sangat lucu
Aku mengoleksi topeng emosi
Kemudian aku memerankannya
Tak ada wajah asliku yang sakit dan terluka

Haruskah bersembunyi seamanya?

Ah, mana ada kuasaku?
Hanya saja, nampan ini kusentuh lagi

Berdebu
Tapi masih bisa dipakai lagi

Bukan... bukan kotor
hanya debu yang menggelitik

Menyimpan sejarah masa lalu
yang susah untuk aku tinggalkan.





*Nemu tulisan ini di notebook-ku. sepertinya tulisan tahun lalu. ah, apa kabar, Topeng?*

Hilang


“Pokoknya aku tidak mau, Diy!” Mata Puspa berapi-api. Menatap kesal pada kakaknya itu.
“Tapi kita tidak bisa melakukan apa-apa kecuali pergi dari sini, Pus.” Dengan sabar Diyar menjelaskan.
Puspa menghentak kesal. Langkah-langkah tegasnya mengarah ke kamar dan… Darr! Pintu terbanting kasar. Diyar hanya bisa menghela nafas.

Rumah ini, sudah bukan milik mereka lagi. Bukan milik keluarga besar Suketi Jiwo lagi. Diyar tidak bisa membayar tagihan dari Pegadaian. Ya, sertifikat rumah warisan ini sudah digadaikan oleh Ayah mereka. Kecanduan judi telah membuatnya kalap. Semua isi rumah ini telah dijualnya.

Kecuali cermin tua di kamar Puspa.

Pyaar…

Lamunan Diyar terpecah. Segera dia berlari menuju kamar Puspa. Jangan-jangan…

“Puspa, buka pintunya!” Diyar mendorong sekuat tenaga, namun pintu itu bergeming.
Diyar tak habis akal. Keluarlah ia dan mendobrak jendela dari luar.

“Puspa… Puspa…” Teriaknya. Tak ada jawaban, hanya gaung suaranya yang menjelma.

Aneh. Tidak ada siapa-siapa di kamarnya.
Diyar semakin bingung.
Lebih aneh lagi, cermin tua itu masih utuh. Tidak seperti dugaannya tadi.

Tapi,
“Puspa?”
Diyar menatap sebuah bayangan yang semula menampilkan sosok dirinya sendiri.
Namun, kini berubah menjadi dua sosok perempuan, Puspa dan Ibu.

“Diyar, maafkan kami. Kami harus kembali. Dunia kita berbeda.”


Suara merdu ibu sayup tenggelam dan hilang dalam cermin tua.

Bisul Dosa


Kamu pernah bisulan?
Aku yakin, kamu pernah mengalaminya. Bisul atau abscessus adalah sekumpulan nanah yang terakumulasi di rongga di jarngan setelah terinfeksi sesuatu, sebagai reaksi ketahanan dari jaringan untuk menghindari menyebarnya barang asing di tubuh. Jadi, dengan kata lain, bisul mengandung bakteri dan imun yang rusak karena benda asing yang masuk.
Gimana rasanya punya bisul?
Gatal, perih, panas dan segala ketidaknyamanan di sekitar kulit yang terkena bisul.  Satu bisul saja bisa membuatmu tersiksa. Padahal, bisul bukanlah penyakit mematikan, tidak menular. Hanya sebuah peradangan kulit.  
Bagaimana jika bisul itu adalah wujud dari dosa yang kita perbuat?

Yah, aku hanya mengandaikan. Andai dosa bisa berwujud, mungkin manusia lebih aware terhadap perbuatan yang tergolong dosa. Karena tiap kali manusia melakukan dosa maka timbullah bisul di kulitnya (atau di wajahnya sekalian). Sudah sifat manusia untuk menghindari ketidaknyamanan dan berusaha meraih kebahagiaan. Dengan alarm dosa berupa bisul, maka manusia akan berusaha meninggalkan sesuatu yang menimbulkan ketidaknyamanan atau kesakitan.

Jika dosa bisa berwujud bisul, manusia dapat merasakan ‘hukuman’ dari perbuatan dosanya secara langsung. Semakin banyak dosa yang dia lakukan, semakin banyak pula bisul yang muncul. Semakin besar dosa yang dilakukan maka semakin besar pula bisul yang muncul. Bisul-bisul dosa itu hanya bisa sembuh dengan memohon ampunan kepada-Nya, mengakui kesalahan dan berjanji untuk tidak mengulanginya.

Jadi, sudah berapa bisul yang kau temukan hari ini?
Hahahaha...lucu kali ya, jika berbohong dikit, maka muncullah satu bisul di hidung. Belum lagi kalo pergi ke dukun, kira-kira bisulnya segede apa ya? Itu kan dosa besar. 

Bisul tak hanya perih, tetapi ada juga yang menimbulkan bau amis jika tonjolan itu pecah dan mengeluarkan nanah. Jangan dibayangkan kalau kamu tidak ingin mual! Bayangkan saja, sekumpulan kotoran dan imun yg busuk pecah dan keluar, tentu sangat menjijikkan. Semakin banyak dosa, semakin banyak bisul diderita, semakin berbau amis dan semakin dijauhi orang. (kecuali, kalau semua orang juga bernasib sama, berdosa dan bisulan ^_^).

Jadi inget, ada sebuah tweet dari seorang teman (aku lupa kapan dan siapa yang nulis tweet ini) : “Sekiranya dosa itu mengeluarkan bau busuk, pastilah engkau takkan mau duduk bersamaku”
Yeah, karena dosa tak berwujud, kadang kita ‘lupa’ dengan dosa yang telah kita lakukan, kemudian melakukannya lagi dan lagi. Seakan kita lupa bahwa ada ‘bisul-bisul’ juga nanti di akhirat.

Taukah kau kenapa dosa tidak langsung dihukum dengan bisul, kutil dan bau busuk?

Menurutku sih, karena dosa tidak mudah dihukum dengan penyakit fisik itu. Karena dosa tak semudah itu terbalaskan. Misalnya saja nih, ada dosa besar (zina, contohnya) yang dilakukan seseorang tanpa diketahui orang lain, apakah cukup dihukum dengan bisul segede kepala? Lalu, apa hukuman yang pantas? Ah, aku bukan ahli hokum. Cari sendiri ya di Al-Qur’an dan Hadits.

Karena dosa hakikatnya adalah hasil dari godaan. Pencoba kekuatan iman kita. Penguji kadar cinta kita. Dosa adalah akibat dari menurunnya iman dan kadar cinta kita kepada-Nya. Sanggupkah kita menjauhi dosa? Yang kita butuhkan hanyalah iman. Bukan “pemberitahuan” berupa bisul bernanah, karena nurani kita sendiri yang harusnya mencipta alarm pribadi.

Yeah, dosa bukan bisul. Dosa tak bisa diprediksi ganjarannya. Tapi pasti ada, kelak. Bukan berupa bisul berbau busuk, atau kutil di sekujur tubuh, bahkan tumor ganas dan kanker, yang sering bersliweran di dunia kesehatan kita. Bukan...bukan itu. Tetapi dengan siksaan yang tidak dapat kita bayangkan. Kelak dan pasti.
Semoga alarm pribadi kita berfungsi dengan baik.
Wallahu’alam

Birthday and The Surprise Part 2

Ingatan manusia tak seberapa. Dan masa depan tak dapat diduga. Aku hanya ingin mendokumentasikan semua kenangan ini di sini.

 #Birthday --> SMS

“Kya...Bu Diah Rahmawati, S,Psi. Apa yaa? (Asumsi galat Bandung-Solo 10 menit, saiki mesti kono wis tanggal 5 Mei)” --> Aji, adekku. Dia orang pertama yang memberiku ucapan. Padahal sms itu aku terima pukul 23.54 WIB. Terima kasih, adekku yang tak begitu mampu berolah kata.

“Barokallah ya mbak, pas lulus pas milad. Mugi-mugi bapak lekas sembuh” --> dari Nunu. Adek imutku di kantor.

 “Assalamu’alaikum, 4 U and all people who loving HIM, Allah SWT. He gives time 4 us and give U the day. Happy Birthday. Kadonya semoga bapak cepat sembuh.” --> Dinda. I miss her so much.

“Meluangkan lebih banyak waktu dengan keluarga, mnumbuhkan nilai-nilai cinta, mengenal kembali bibit-bibit kebahagiaan di hari special. Itu momen lebih berharga dari apapun” --> Burhan. Selalu ada yang makcless saat aku butuh pencerahan darinya.

 “Tak ada yang bisa kuberi padamu. Hanya sebuah kalimat yang menyatakan, ‘Aku ingat hari ulang tahunmu, sahabat’. Selamat menikmati perjalanan menuju separuh abad dan meninggalkan seperempat abad yang terlewat. Banyak mimpi yang menunggu untuk kau raih. Banyak asa yang menanti untuk kau gapai. Semoga senantiasa dilimpahi dengan kebaikan, keberkahan, kebahagiaan, dan kesuksesan. I love you now and tomorrow, sugeng ambal warsa, keep smile and happy :)” --> Isiya, sahabat inspiratif dan motivatorku, yang tak pernah menyerah menjejaliku dengan dorongan. I love you too, Is.

 “Happy Birthday, adekku saying. Semoga Allah selalu mencurahkan berkah dan rezeki buat kehidupanmu. Everything’s OK in the coming years ya ;)” --> mbak Santi, kakak keren yang selalu cantik. Miss you, mbak.

 “Diaaah...selamat ulang tahun, panjang umur...semoga apa yang jadi impian hidupmu tercapai, lebih baik lagi dan menjad manfaat bagi sesama. Aamiin.” --> Wasiyatul Hamidah, sobat kentalku semasa SMA. Muuaahh...

 “Semoga usianya semakin barakah, mba Deey. Jadi anak yang shalihah ya :). *peluuk” --> Tutut, adek tingkatku yang lucyuu. *peyuuk.

 “-Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali- (Q.S. al-Maryam: 33)
Barokallahu fii umrik. Met milad, mb Diah. Semoga usianya berkah, menjadi hamba yang kian dicintai Allah, kian shalihah, selalu diberinya petunjuk dan bimbingan dalam setiap langkah dan ditatap-Nya penuh cinta, serta bisa meraih setiap apa yang terbaik menurut Allah. Semoga usianya full barokah ;)” --> Aris, adek tingkatku, seorang muslimah tangguh yang keren.

Masih ada beberapa SMS keren yang tak terselamatkan ketika HP-ku jatuh dan mati, saat itu. Maafkanlahhh...

#Birthday --> Social Media

"happy Birthday kakak... WUATB deh.. asekk.. pertamax dah gue ambil gan wkwk.."--> Adit

"happy milad kakak... Barakallah fii umrik sehat semangat selalu :)" --> Aprisa Ayu, my best friend. forever and ever.

 "selamat ulang tahun mba diaaaahhh cimuuttt, salam hom pim pah ;)" --> Umi masrie.

 "happy b'day ya mbak dyah,, moga tmbah baik,panjang umur n sehat slalu,, wish you all the best,, :)" --> Atika

 "met ultah say......:)" --> Maria.

"Happy belated b'day, Dear... Semoga selalu diberi kesehatan, kekuatan dan kesabaran yang luar biasa. Sukses dunia akhirat." --> Nyonyah Bos Windri.

 "selamat ulang tahun mb cimut...semoga tambah suksesss yoaaa...aaamiin.." --> Denta.

"hbd" --> Abdul Rosyid

"Hai mba yang lahirnya bareng (tanggalnya) hehehe..met milad ya mbaaa..semakin bercahaya dan sukses selalu..."--> Charla, adek tingkat yang tanggal lahirnya 5 Mei juga.

"Smg seperempat abad yg telah berlalu memberikan pembelajrn yg berharga sbg bekal melewati setengah abad yg mulai engkau tapaki. Just tell u one thing, 'I still remember your b'day my lovely friend' :-)"--> Isiya. Again


"mb Dee met ultah.... mugi2 umure barokah lan diberi kesehatan selalu beserta seluruh keluarga diberi rezeki yang berlimpah...aaamiinnnn..... ^^" --> Ullum


"Happy milad ya diey...smg sehat n bhgia slalu ya,smg bpk lekas sembuh jg amin" --> Dyanita

"Met milad nduk moga berkah umur... Aamiin" --> mb Arum

"happy birthday mba,, persis bgt ma aku 2thn yg lalu, bedanya aku pas H-1jam birthday masuk Icu,, Keep care for him,, :')" --> Nurul azizah

 "Met milad"--> mbak Rima rumata

"barokallahu fii umrik cemuuuuuut *semoga segera bersuami #eh" --> cenung alias Norma.

"met ultah di, long live and wish u all the best!" -->Noridha

"Selamat Hari Burung, mbak. eh..." --> Impian

"met milad mbak dy... semoga selalu dlm Lindungan ALLAH SWT... Aamiin" --> faizah

"Happy b'day,,wish u all the best" --> Ratih turis

"selamat ulang tahuuunn..sudah dapet kado dari diri sendiri kaan..hehe..semoga berkah ya.. :D" --> Destiar

"Happy new year" --> ferdy van houten

"hppy bday plend GBU" --> Tutik tik

"hpy bday mb diah,,sukses sllu" --> mb Erna

"hbd ya diah sukses slaluu" --> Aminah

 "happy birthday mba :)" --> Afni

"cmut..? kowe milad og ea ? tak traktir es degan" --> mas Tyo

"Met milad ukh...semoga cita2nya kesampaian yah,,,"--> dewi nurria

"Barokallahu fi... met milaad' --> mas Singgih

"met ultah ya mb diah.q cyang :*" --> Dwi Ayu

"happy birthday yak mbg diah cmut" --> Ana

"Selamat" --> masDody

"┣┫ɑややy βϊƦƫĐäў Mbak Dyah.. Smoga panjang umur & Sehat selalu..Amiin" --> mba Ika era



"Mwt ultah mbak" --> Toha


"cie cie,... met ultah mbaaaak..." --> Ipeh

 "Selamat ulang ytahun ݪªª ݪªª ݪªª ݪªª" --> agus tri prasetyo

"HBD dek.....moga pnjang umur n sehat selalu.....آمِّينَ آمِّينَ آمِّيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ" --> mas Supri

"Hbd mut" --> mas Chris

"Hbd mb," --> Linda

"HBD dek,smoga panjang umur,sehat sellu,sukses and apa yg dicita-citakan terkabul.......aammiinnn....." --> mas Topix

"HBD ya dek...moga panjang umur,sehat selalu,sukses selalu n tercapai apa yg dicita-cita kan n cpt dpt.... " --> mas Cholish

"HBD...." --> mb Rina

"Dear diah happy birthday to you, long live and succesfull in the future.." --> mb Eka

"Rasulullah tercinta pernah bersabda, “Aku (Rasulullah) mengagumi seorang mukmin yang bila memperoleh kebaikan dia memuji Allah dan bersyukur. Bila ditimpa musibah dia bersyukur dan bersabar.” (HR. Ahmad) "Happy milad day! Wish all the best to ye. And for our beloved father, healed as soon as possible dan bisa kembali :-)" --> mas Lilik Indiva

"Selamat menempuh umur baru ea kaka" --> mas Kopi susu

"HBD mbk diah......" --> Dewi mifta


"mbak cmuuuttt.... met milad yaak... smg panjang umur, smakin berkah, dan dipermudah dlm smua urusan... cemungud mba :)"--> Alifta

"Met ultah semoga panjang umur dan sehat selalu amin............?"--> fajar

"Happy birthday mb diah,be better...yak,." --> Chikita

"Barokallah fi umrik mb diah.. Semoga selalu: barokah usianya,dikuatkan pundaknya, dilapangkan rizkynya dan dilancarkan urusanny.. Aamiin" --> Vera

"Mba dee.... met milad mba... sukses selalu bwt mba dee... :) salam LT :D" -- Risa

"Barokallah fi umrik, . . . . " --> Heardy uwais

"Met ultah mb.diyah.. :D" -->Tani

"Selamaat hari milad mbaah diaaah" --> mbah Reza 

"cemoga celalu cemangat yyoyoyoyyooooyyyy.... salam amphisbaena" --> Anjar

fiiuuhh...capek juga mengkopipaste semua itu. selanjutnya di #birthday ketiga ya ^_^

Birthday and The Surprises Part 1

Ah, aku sudah semakin tua rupanya. Seperempat abad berlalu, dan aku masih tetap yang dulu. 
      Aku tak menyebutnya sebagai suka cita berumur panjang (karena ada banyak orang meninggal di usia lebih muda dariku, termasuk sepupuku). Aku juga tak merayakannya karena masih diberi hidup yang menyenangkan. Aku menganggap setiap tanggal kelahiranku adalah pengingat kematian. Berarti jatah usiaku berkurang setahun. Entah masih berapa lama lagi waktuku menapak dunia. Toh, manusia hanya mampir minum kan? Aku hanya menunggu kapan waktu kembali pulang ke asal. 
       Tapi, aku ga munafik. Ketika hari miladku tiba, tentu aku sangat menyukai surprise, kado, ucapan selamat dan doa. Kadang memang aku tak peduli bahwa tidak ada ajaran mengucapkan selamat ulang tahun dalam Islam. Tapi, menurutku asal aku punya maksud (tertentu) baik, mungkin ga masalah (*ngeles). Ucapan selamat, doa dan kado adalah bentuk penerimaan dari orang-orang di sekitarku. Aku masih punya banyak teman yang mencintai, ingat miladku, berbagi cinta dengan kado-kado lucu sebagai bentuk sayang mereka untukku. Itu saja. Kadang kado tak semanis dan seindah yang kita harapkan, tapi ketulusan merekalah yang aku hargai. 
      Satu surprise terbesar dalam detik-detik miladku adalah kecelakaan yang menimpa bapak. Itu adalah kado terhebat yang pernah aku alami. Tiada yang ku inginkan saat itu kecuali bapak sembuh. Aku tak peduli rencana jalan-jalan kami berdua yang terkandaskan. Allah memberiku kado istimewa. Memberiku quality time bersama bapak dan ibu, yang sebelumnya jarang kami lakukan. Sarapan bersama di bangsal, begadang dan ikut merasakan kesakitan bapak. Aku tak menyesal ketika mereka lupa hari miladku, padahal tak pernah terlewat setiap tahunnya, ibu memberi kue, kado dan doa. Cinta mereka adalah kado terindah. Kebersamaan itu adalah kenikmatan. Terima kasih. 
      Oya, di postingan berikutnya akan ada kumpulan semua doa dari teman-teman di miladku yang ke---- ini. Semoga tahun depan aku masih bisa bercerita tentang miladku di sini.

 Selamat menikmati sisa usia, Cmut. 
*cmut*

Bukan Dejavu itu

bukan...
ini bukan de javu itu...
tapi benar2 kepahitan yg sama tapi lebih
terpaksa menelannya
karena demam ini tak kunjung turun

bukan...
bukan dejavu yg lalu
tapi simptom janggal yg berkubang
nyata terpana
untaian getir

bukan...
bukan dejavu yg itu
hanya sebuah episode depresif 
meminimalisir sepi yg tak berujung

biarlah...
halusinasi ini menyimpan misteri
pd mimpi2 buta saat itu
asal tak membuat keabnormalan pikir yg rusak

Nerf War at GOR UNS

Wiken yang amat sangat seru, di awal Desember yang juga seru. *apa sih?
Nerf War, sebenarnya aku pengen banget maen. Tapi gengsi, sumpah, malu sama aura kewanitaanku dan juga inget umur. Sepagian aku dan Ayuk (juga pian yang unyu-unyu) membersamai mereka : Mas Erwin, Mas Fahmi, Mas Alib, Mas Apip, Nunu, Anjar, Adit dan Danar, untuk perang-perangan. Whuatz? yeah, it was a Nerf War. Perang tembak-tembakan dengan senjata mainan Nerf. Sebelumnya mereka sudah perang poster dulu di Pesbuk. Mau liat?
buatan Nunuchan
buatan Anjar

Buatan Adit (bolone londo ^_^)

Buatan Mas Alib

buatan Danar

Nunu again
Nah, baru perang poster aja udah seru. Tambah lagi nih ada video tantangannya di yutub (link-nya mana ya?)
Dan ini dia hasil jepretan kamera yang aku dapet dari ngembat punyanya ayuk. *halah







Ikutan Seminar dan Workshop/Pelatihan, Buat Apa?

Hoooaahhmm... sebenarnya ada naskah yang belum selesai. Tapi nulis itu butuh mood . Dan moodku lagi menguap bersama desau angin. haha...(halah, permakluman yang payah -_-)
Demi memanggil mood yang lagi terbang entah kemana, aku nulis uneg-uneg ini dulu.

Berawal dari cerita seorang teman tentang teman-teman kuliahnya yang rajin ikut seminar, tapi kurang tertarik ikut workshop. Juga, tentang pengalamanku mendengar keluhan seorang peserta workshop yang 'durung gaduk kuping' dengan materi yang disampaikan. Apa yang menjadi sebab?

Sek ah, bentar.
Sebelum kita telusuri sebabnya, lebih baik kita tahu dulu bedanya seminar dan workshop/ pelatihan. Seminar itu merupakan pembahasan suatu masalah dengan berbagai sudut pandang -dari ahli yang diundang-. Jadi, isinya penjabaran masalah dan analisis masalah serta -kadang- diperoleh solusi dari masalah tersebut. Memang sih, cuma omong-omong doang. Tapi kontennya berbobot. Seminar ini meningkatkan aktivitas otak dalam berpikir analitik. Penting lo untuk mengetahui isu yang ada di masyarakat dan bahkan tahu bagaimana mengatasinya atau menghadapinya.
Kalo workshop atau pelatihan, jelas berisi pelatihan (take action). Biasanya berkaitan dengan skill, baik soft maupun hard skill. Karena namanya pelatihan, maka yang ditekankan di sini adalah praktik, bukan cuma ber-cas cis cus teori saja. Dan seringkali, workshop tertentu mengharuskan peserta membayar sejumlah fee yang mahal karena harus mendatangkan ahli yang competent, capable 'n speakable (mampu tapi ga pandai ngomong ga bisa jadi trainer), menyediakan barang-barang yang dibutuhkan untuk workshop, dan keperluan lainnya. Berbeda dengan seminar yang tidak membutuhkan praktik. Cukup mendatangkan ahli dalam bidang tertentu yang sesuai dengan tema seminar. Contohnya, seminar tentang psikopat. Ahli yang diundang adalah dokter ahi jiwa (psikiater), psikolog klinis, kriminolog dan kalo bisa penderita psikopat atau korban psikopat.

Nah, balik lagi ke kasus fenomena mahasiswa yang rajin ikut seminar tapi malas ikut workshop. Jadi, ada mahasiswa yang berbondong-bondong ikut seminar. Apalagi seminarnya gratis. wuuuu...pasti padet tuh daftar hadirnya. Usut punya usut, kebanyakan yang ikut seminar gratis adalah anak kos-kosan. Kok bisa? Di sebuah kampus yang sedang ada fenomena ini, ssalah satu faktor paling berpengaruh adalah sms pengumuman sang korti (koordinator tingkat) yang bunyinya mengandung sedikit provokasi : "...makan siang gratis. lumayan buat ngirit uang makan...". Hmmm...selanjutnya bisa ditebak, ruang diadakannya seminar penuh. Peserta duduk, diam, mendengarkan dan makan siang gratis. Ehem...kayaknya pas jaman aku masih mahasiswa (aktif) juga termasuk deh -_-.

Di lain waktu, masih dengan mahasiswa yang sama. Ada poster tentang workshop keren yang bakal menunjang skill mereka, bahkan sebenarnya bisa menunjang kemampuan mereka menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Tapi, mereka melihat poster itu dengan sebelah mata. Mungkin karena tidak ada tulisan "makan siang gratis"-nya.

 Atau ada kasus lain, dimana koleksi sertifikat menjadi hal utama dalam mengikuti event apapun. Entah seminar atau workshop ataupun cuma nongkrong, yang penting dapet sertifikat. Apalagi, di sertifikat tertulis "sebagai PANITIA". hahaha.. tapi tapi...Nah lo...trs setumpuk sertifikat buat apa sih kalo tanpa ilmu dan skill yang didapat dari event itu?
Mungkin tidak semua mahasiswa seperti itu sih. Ada juga yang bener-bener tertarik mengikuti seminar itu. Hanya saja, fenomena ini banyak terjadi di kampus manapun dan bukan rahasia umum lagi. (atau malah membudaya)

Kasus lain, kalo ini sih aku denger sendiri dan langsung tepok jidat deh. Jadi, ceritanya aku sedang mengikuti sebuah workshop yang diadakan pihak di luar kampus. Setahuku, workshop ini adalah tingkat lanjut dari materi dasar yang diajarkan di perkuliahan. Misalnya gini nih, workshop tentang sempoa maka sebelumnya kita harus paham mengenai matematika dasar (tambah, kurang, kal, bagi). gitu lo...
Nah, sebelum aku masuk ke ruang workshop, aku sempat membayangkan pesertanya adalah mahasiswa semester akhir, atau minimal semester 6 lah karena mereka sudah mendapat mata kuliah dasar tersebut, minimal sudah ada fondasi. Tetapi alangkah terkejutnya ketika aku masuk dan meihat peserta didominasi mahasiswa semester 2 dan 4. Hmmm...padahal mereka mengenal mata kuliah tentang ini pun masih dalam taraf umum -_-. Kemungkinan besar mereka kurang bisa memahami isi workshop ini. Padahal harga tiketnya mencapai ratusan ribu. Menurutku sih, sebanding dengan apa yang aku dapat, tapi untuk mereka? entahlah...

Di lain waktu, ada workshop lagi diadakan oleh pihak kampus. Harga tiket sangat  terjangkau, belasan ribu. kali ini aku cuma sekilas saja melihat, karena materi ini beberapa tingkat di bawah workshop yang pertama tadi. Sempat mendengar seorang mahasiswa (mungkin semester 2 atau 4) sedang berkeluh kesah tentang workshop yang pertama. Katanya, dibandingkan dengan workshop yang kedua, workshop yang pertama sangat tidak menarik, ga mudeng, mahal pula. Sedangkan workshop yang kedua, mudah diterima dan sangat menarik.
Hahaha...aku cuma ketawa dalam hati. Pengen banget aku bilang, "Halo, nak. Liat diri dong! kamu belum gaduk kuping untuk mengikuti workshop itu. Harusnya ikut workshop dasar dulu baru ikut workshop lanjut."
Mungkin dia berpikir, harga tiket mahal menjamin kemampuan atau skill juga meningkat. Padahal, belum tentu juga. Tergantung dari masing-masing pribadi. Dan kadangkala, workshop diadakan secara bertingkat. Semakin tinggi tingkatan maka semakin besar fee yang harus dibayar.

Hmmm...Jadi, menurutku, sebelum mengikuti sebuah seminar atau workshop atau pelatihan atau training atau apalah namanya, sebaiknya :
1. Pahami dengan benar info event itu. Sesuaikan dengan minat dan kebutuhan kita
2. Benahi dulu motivasi mengikuti seminar ataupun workshop. Jangan cuma mencari fasilitas gratisan.
3. Ajukan pertanyaan pada diri sendiri, "Apakah seminar ini/ workshop ini penting buatku?" dan "Kira-kira apa yang bisa aku dapat dari event ini nantinya?"
4. Jangan cuma ikut-ikutan teman. Sukanya grudag-grudug tapi ga tau arah yang jelas.
5. Selekif memilih event agar tidak merasa kecewa di akhir sesi.
6. Ahhh...tambahin sendiri yah...aku ngantuk :D

Udah ah sekian dulu uneg-unegku. sekedar tulisan pembuang mood 'males nulis' aja sih.
Ditunggu komennya ya. hoooaaahhmmm...





OB Kantor Inspira -my smile inspirations-

Perkenalkan, mereka adalah orang-orang yang kini mengisi hari-hariku. Tiap hari, tiap pagi, siang, sore, ketemu mereka melulu. Tapi ga pernah bosen. Ada saja hal-hal yang membuat kita tertawa, bercerita, dan makan bersama (#eh?). 
Di Inspira, kami bukanlah pekerja. Kami tidak bekerja, karena kami sedang main-main. 

Anjar, Adit, Aku dan Nunu

Mereka suka banget minum kopi


My Desk
Ini nih, bos paling kreatif. Kira-kira isi otaknya seperti apa ya?

Ya, sudah hampir 3 bulan aku bersama mereka. Berkarya dan bermain bersama. Besar harapan kami, apa yang kami 'mainkan' akan bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan agama. #popielah

Metropolis -Sebuah Resensi-


Selama 4 hari ini, aku dibungkam oleh sebuah novel detektif. Sebenarnya novel ini sudah lamaaaa aku beli (a-nya banyak, menandakan 'sangat' yang 'amat'). Masih bersegel utuh dan teronggok di rak buku baru di kamar. Aku lupa kapan membelinya, tapi aku ingat beli novel itu di Gramedia Solo karena kepencut sama wajah covernya yang selintas mirip lembaran koran yang tertumpah darah. Ya begitulah seorang bookshopaholic, beli sesukanya dan entah kapan membacanya, kemudian agak menyesal ketika melihat dompet menjadi sedemikian tipis :P

Marii ke Metropolis. 

   Novel terbitan tahun 2009 ini ditulis oleh mbak Windry Ramadhina. Agak asing di telingaku, dan aku belum pernah membaca karya-karyanya yang lain. Tapi, begitu membuka bab pertama, jederrr...seakan aku berada pada situasi itu, bersama dengan misteri pembunuhan yang sedang diceritakan. Dimulai dengan pemakaman Leo Saada, seorang bandar narkoba di Jakarta, akibat kecelakaan tragis. Kematian Leo menambah daftar panjang pembunuhan bandar Narkoba yang tergabung dalam Sindikat 12. Sebelumnya Bram, seorang polisi yang bertugas di Sat Reserse Narkotika, tengah menyelidiki kematian Gilli yang diduga akibat perseteruan dengan geng Leo Saada. Ferry Saada dan Maulana Gilli (pewariis masing-masing sindikat) saling menyalahkan dan mencurigai atas kematian ayah mereka. Namun Bram menduga, ini merupakan pembunuhan berantai yang terjadi selama kurun waktu 1.5 tahun.  Bram dan asistennya, Erik (seorang polwan), terus berusaha mencari bukti-bukti terkait pembunuhan tersebut. Langkah mereka sempat hampir terhenti ketika Atasan mereka pensiun dan digantikan oleh Burhan. Burhan tidak menginginkan Bram menangani kasus ini dan akan mengalihtugaskan kasus ke kesatuan kriminal. Bukan Bram jika dia diam saja dan menuruti apa kemauan Burhan. Bram yakin, dia segera menyelesaikan kasus ini. Apalagi kecurigaannya bertambah ketika selalu menjumpai seorang wanita (yang belakangan diketahui bernama Miaa) di setiap TKP pembunuhan atau di pemakaman. Konflik semakin rumit ketika Soko Galih dan Bung Kelinci (bandar narkoba yang tergabung dalam sindikat 12) juga terkena sasaran pembunuhan. Bram dan Erik semakin dipusingkan dengan sosok Tionghoa yang diketahui melarikan diri sesaat setelah tubuh Soko Galih terlempar dari jendela kamarnya di lantai 2.
  Tinggal 2 sindikat yang 'menunggu giliran' pembunuhan itu, Shox dan Blur. Blur adalah sosok yang hampir dikatakan imajiner, tapi nyata. Ada yang pernah mengetahui sosok Blur sebagai orang berwajah lonjong yang dingin, namun ada yang mengatakan Blur itu hanya sebuah tokoh fiktif. Keduanya menyimpan rahasia masa lalu yang hanya diketahui para ketua sindikat 12. Rahasia itulah yang mengungkap siapa dalang dibalik pembunuhan berantai itu.
Sosok Aretha yang elegan dan Johan yang hampir seperti mayat hidup menambah konflik di novel ini semakin rumit. Aretha sangat disegani oleh ke-12 sindikat narkoba itu sebagai 'pencuci uang' mereka.  Saking segan dan percayanya mereka terhadap wanita ini, mereka tidak pernah menduga bahwa Aretha menyembunyikan generasi  sindikat narkoba terbesar sebelum adanya Sindikat 12, Johan. 
Novel ini semakin manis dengan hadirnya seorang wanita muda berwajah malaikat bernama Indira. Johan mempunyai penyakit langka, leukimia kronis. Kehadiran Indira di sisinya membuatnya bertahan kala penyakit itu berulah.

deng...deng...
siapakah Johan? Siapakah Miaa? Lalu siapakah Dune? Apa itu metropolis? Siapa yang membunuh Erik?
  Novel ini begitu rumit seperti novel detektif pada umumnya. Penuh konspirasi dan njelimet. Aku suka permainan kotor Bram dengan Ferry dimana Bram melindungi Ferry agar tidak masuk penjara untuk suatu informasi penting guna mengungkap pembunuhan dan peredaran narkoba di Jakarta.  dan lagi, permainan konflik yang dibuat oleh penulis  membuat dentuman-dentuman aneh "Kok bisa?". Ya, semuanya serba terhubung. Antara Sindikat 12, Miaa, Aretha, Johan, Shox, Saada dan si Blur yang kehadirannya tak pernah terduga sebelumnya.
Hanya satu kekurangan di novel ini. Miaa seharusnya menyadari keberadaan Blur yang masih hidup (karena pernah ditemukan mati terbunuh) ketika Burhan memintanya memberikan pesan bertuliskan "Penjaringan, 12-6". dan aku agak tidak suka dengan adegan 'yang tidak semestinya'  ada di beberapa tempat. Mau tau adegan apa? Baca aja sendiri!

  Sewaktu membaca novel ini, aku harus mencuri-curi waktu. Sebelum tidur, sewaktu membersihkan kamar, atau sebelum adzan maghrib. Itulah mengapa aku harus menghabiskan waktu berhari-hari membaca novel dengan 25 bab ini. Tapi pola membaca itu menimbulkan kesan yang aneh ketika aku menyelesaikannya. Kok wis rampung ya? Rasanya, suasana kantor polisi yang sumpek oleh kertas laporan, atau bau anyir darah akibat baku tembak di gudang coklat, aroma narkoba (emang pernah?), sudah demikian nyantol di kepala. Sama seperti aku menyelesaikan Harry Potter and The Deadly Hollows selama 1 minggu, rasanya seperti keluar dari Hogwart dan kembali ke dunia nyata. hehe

  Novel ini recomended bagi teman-teman yang suka cerita detektif, konspirasi, misteri, tragedi atau teman penulis yang berencana bikin novel detektif. Penggambaran karakter tokohnya agak berbeda dari novel kebanyakan. Biasanya dalam sebuah novel pasti ada tokoh yang jahat (antagonis) dan ada tokoh yang putih (protagonis). Tapi dalam novel ini, tidak ada satu karakter pun yang benar-benar bersih, putih, tanpa dosa dan teraniaya. Semuanya abu-abu denga  segala pencitraan yang berbeda-beda. Pokoke keren!